Friday, February 22, 2013

Etiologi Periodontitis


Faktor etiologi periodontitis, dapat diklasifikasikan dengan beberapa cara.
1.      Berdasarkan peranannya dalam menimbulkan penyakit, faktor-faktor tersebut dapat diklasifikasikan atas:
(1)   Faktor etiologi primer, berupa plak dental/plak bakteri;
(2)   Faktor etiologi sekunder/faktor pendorong, yang mempengaruhi efek dari faktor etiologi primer.
2.      Berdasarkan keberadaannya, faktor etiologi tersebut dibedakan atas:
(1)   Faktor etiologi lokal/faktor ekstrinsik, yaitu faktor-faktor yang berada disekitar periodonsium. Faktor ini dinamakan juga sebagai faktor ekstrinsik karena keberadaannya adalah diluar jaringan periodonsium.
(2)   Faktor sistemik/faktor intrinsik., yaitu faktor etiologi yang berkaitan dengan kondisi umum dari pasien. Faktor sistemik dinamakan juga faktor intrinsik karena berada di dalam tubuh pasien.

PLAK DENTAL
Plak dental (dental plaque) atau plak bakteri (bacterial plaque) adalah deposit lunak yang membentuk biofilm yang menumpuk ke permukaan gigi atau permukaan keras lainnya di rongga mulut seperti restorasi lepasan dan cekat.
Penumpukan plak dental sudah dapat terlihat dalam 1-2 hari setelah seseorang tidak melakukan prosedur higiena oral. Plak tampak sebagai massa globular berwarna putih, keabu-abuan, atau kuning. Gesekan jaringan dan bahan makanan terhadap gigi akan membersihkan permukaan gigi, namun pembersihan yang demikian hanya efektif pada duapertiga koronal permukaan gigi. Dengan demikian plak umumnya dijumpai pada sepertiga gingival permukaan gigi, karena pada daerah tersebut tidak terganggu oleh gesekan makanan maupun jaringan. Penumpukan palak lebih sering terjadi pada retakan, pit, dan fisur permukaan gigi; di bawah restorasi yang mengemper, dan disekitar gigi yang erupsinya tidak teratur.
KALKULUS
Kalkulus dental adalah massa terkalsifikasi atau berkalsifikasi yang melekat ke permukaan gigi asli maupun gigi tiruan. Biasanya kalkulus terdiri dari plak bakteru yang telah mengalami mineralisasi. Berdasarkan lokasi perlekatannya, kalkulus dental dapat dibedakan atas kalkulus supragingival dan kalkulus subgingival.
Kalkulus supragingiva terletak pada koronal margin gingiva dak karenanya dapat dilihat dalam rongga mulut. Kalkulus supragingiva biasa berwarna putih atau kuning keputihan, dan mudah dilepas dari permukaan gigi. Setelah penghilangan, kalkulus supragingival cepat terbentuk kembali, terutama pada bagian lingual insisivus mandibula.
Kalkulus subgingiva terletak dibawah crest margin gingiva dan karenanya tidak dapat dilihat secara klinis. Lokasi dan perluasan kalkulus subgingiva dapat dievaluasi dengan instrument dental seperti explorer. Kalkulus subgingiva berwarna cokelat tua atau hitam kehijauan, dan melekat kuat ke permukaan gigi.
FAKTOR IATROGENIK
1.      Tepi Restorasi
Tepi restorasi yang overhanging turut berperan dalam terjadinya inflamasi gingival dan perusakan periodontal karena: (1) merupakan lokasi yang ideal bagi penumpukan plak; (2) mengubah keseimbangan ekologis sulkus gingival ke arah yang menguntungkan bagi organism anaerob gram-negatif yang menjadi penyebab penyakit periodontal.
2.      Kontur Restorasi
Mahkota tiruan dan restorasi dengan kontur berlebih cenderung mempermudah penumpukan plak dan kemungkinan juga mencegah mekanisme self-cleansing oleh pipi, bibir, dan lidah.
PIRANTI ORTODONTI
Piranti ortodonti cenderung mempermudah penumpukan plak dental dan debris makanan dengan akibat timbulnya gingivitis, dan juga dapat memodifikasi ekosistem gingiva. Dilaporkan bahwasanya setelah pemasangan cincin ortodonsi terjadi peningkatan proporsi Prevotella melaninogenica, Prevotella intermedia, dan Actinomyces odontolyticus, dan pengurangan flora anaerob/fakultatif di dalam sulkus gingiva.
KEBIASAAN BURUK
1.      Bernafas dari mulut.
Penyakit periodontal sering dikaitkan dengan kebiasaan bernafas dari mulut. Dampak kebiasaan bernafas dari mulut terhadap gingival adalah berupa dehidrasi permukaan.
Ada beberapa kesimpulan mengenai hubungan antara bernafas dari mulut dengan gingivitis; (1) bernafas dari mulut tidak mempengaruhi prevalensi dan perluasan gingivitis kecuali pada pasien yang ada kalkulusnya, (2) gingivitis pada orang yang bernafas dari mulut adalah lebih parah daripada orang yang bernafas normal meskipun skor plaknya sama, (3) tidak ada hubungan antara bernafas dari mulut dengan prevalensi gingivitis, kecuali sedikti peningkatan prevalensi, (4) gigi crowded yang disertai gingivitis hanya terjadi pada orang yang bernafas dari mulut.
2.      Penggunaan Tembakau.
Berperannya kebiasaan merokok sebagai faktor etiologi bisa karena: (1) mempermudah penumpukan kalkulus, yang diduga karena stein tembakau yang ditimbulkan menyebabkan kekasaran pada permukaan gigi sehingga lebih mudah ditumpuki plak dental yang akhirnya mengalami kalsifikasi menjadi kalkulus, (2) asap rokok bisa memperlemah kemampuan kemotaksis dan fagositosis neutrofil, (3) kandungan nikotin rokok dapat: memperlemah kemampuan fagositosis, menekan proliferasi osteoblas, dan kemungkinan juga mengurangi aliran darah ke gingiva.
3.      Trauma sikat gigi dan alat pembersih lainnya.
Penyikatan gigi yang terlalu agresif dapat menyebabkan cedera pada gingiva secara langsung. Akibat buruk tersebut akan lebih parah apabila digunakan pula pasta gigi yang terlalu abrasif.

Sumber :
Saidina Hamzah Dalimunthe. Periodonsia. Edisi Revisi. Medan : FKG USU. 2008. P.106-133
Michael G. Newman, dkk. Carranza’s Clinical Periodontology. 11th Ed. Missouri : Saunders Elsevier. 2012. P. 217

Friday, February 15, 2013

Klasifikasi Gingivitis


1.      Penyakit Gingiva yang dipengaruhi dental plak.
A.    Gingivitis yang berhubungan hanya dengan dental plak.
a.       Tanpa faktor penyumbang lokal lain.
b.      Dengan faktor penyumbang lokal.
B.     Penyakit gingiva yang termodifikasi dengan faktor sistemik.
a.       Berhubungan dengan system endokrin.
1)        Gingivitis yang berhubungan dengan pubertas.
2)        Gingivitis yang berhubungan dengan siklus menstruasi.
3)        Berhubungan dengan kehamilan.
a)        Gingivitis.
b)        Pyogenic Granuloma.
4)        Gingivitis yang berhubungan dengan diabetes mellitus.
b.      Berhubungan dengan dyscrasias darah.
1)        Gingivitis yang berhubungan dengan leukemia.
2)        Lainnya.
C.     Penyakit gingiva yang termodifikasi oleh obat-obatan.
a.       Obat yang mempengaruhi penyakit gingiva.
1)      Obat yang mempengaruhi pembesaran gingiva.
2)      Obat yang mempengaruhi gingivitis.
a)      Gingivitis yang berhubungan dengan oral contraceptive.
b)      Lainnya.
D.    Penyakit gingiva yang termodifikasi dengan malnutrisi.
a.       Gingivitis karena kekurangan vitamin C.
b.      Lainnya.
     2.      Penyakit gingival yang tidak dipengaruhi dental plak.
A.    Penyakit gingiva yang dikarenakan bakteri spesifik.
a.       Lesi yang berhubungan dengan Neisseria Gonorrhea.
b.      Lesi yang berhubungan dengan Treponema pallidum.
c.       Lesi yang berhubungan dengan spesies Streptococcus.
d.      Lainnya.
B.     Penyakit gingiva yang disebabkan virus.
a.       Infeksi virus herpes.
1)      Gingivostomatitis herpes primer.
2)      Recurrent oral herpes.
3)      Infeksi Varicella zoster.
b.      Lainnya.
C.     Penyakit gingiva yang disebabkan jamur.
a.       Infeksi spesies Candida.
1)      Generalized gingival candidiasis.
b.      Linear gingival erythema.
c.       Histoplasmosis.
d.      Lainnya.
D.    Lesi gingiva karena kondisi genetik.
a.       Hereditary gingival fibromatosis.
b.      Lainnya.
E.     Manifestasi gingiva karena kondisi sistemik.
a.       Mucocutaneous disorders.
1)      Lichen planus.
2)      Pemphigoid.
3)      Pemphigus vulgaris.
4)      Erythema Multiforme.
5)      Lupus erythematosus.
6)      Dipengaruhi oleh obat.
7)      Lainnya.
b.      Reaksi alergi.
1)      Material restorasi.
a)      Merkuri.
b)      Nikel.
c)      Akrilik.
d)     Lainnya.
2)      Reaksi yang berasal dari :
a)      Pasta gigi.
b)      Obat kumur.
3)      Lainnya.
F.      Traumatic Lesions.
a.       Injuri kimia.
b.      Injuri Fisik.
c.       Injuri Termal.
G.    Reaksi tubuh.

Sumber : Louis F Rose, dkk. Periodontics Medicine, Surgery, and Implants. Missouri : Elsevier Mosby. 2004

Friday, February 8, 2013

Pencegahan Penyakit Periodontal dan Proses Pembentukan Kalkulus


1.    Pencegahan Penyakit Periodontal
Pencegahan penyakit periodontal diutamakan pada pengontrolan plak. Hal yang termasuk kedalam pencegahan penyakit periodontal antara lain adalah cara mendidik pasien agar pasien mengetahui cara-cara menjaga kebersihan mulutnya, serta upaya memotivasi pasien agar pasien menerapkan nasihat dan petunjuk yang sudah diberikan oleh dokter gigi.
Dalam hal mendidik pasien, dokter gigi harus memberitahu tentang cara pengontrolan plak secara mekanis, yaitu yang dilakukan dengan sikat gigi atau dental floss. Sebelum mengetahui cara menyikat gigi yang baik, dokter gigi haru memberitahu terlebih dahulu bagaimana sikat gigi yang ideal, yaitu :
·      Kepala sikat gigi harus cukup kecil untuk dapat dimanipulasi dengan efektif di daerah manapun di dalam rongga mulut. Panjang kepala sikat untuk orang dewasa adalah 2,5 cm, dan untuk anak-anak adalah 1,5 cm.
·      Bulu-bulu sikat harus mempunyai panjang yang sama sehingga dapat berfungsi bergantian.
·      Tekstur harus memungkinkan sikat digunakan dengan efektif tanpa merusak jaringan lunak maupun jaringan keras.
·      Sikat harus mudah dibersihkan.
·      Pegangan sikat gigi harus enak dipegang dan stabil.
Setelah memberitahukan bagaimana sikat gigi yang ideal, maka dokter gigi kemudian akan menjelaskan bagaimana cara menyikat gigi yang ideal, yaitu :
·      Teknik penyikatan harus dapat membersihkan semua permukaan gigi, khususnya daerah leher gingival dan region interdental.
·      Gerakan sikat gigi tidak boleh melukai jaringan lunak maupun jaringan keras. Metode penyikatan vertikal dan horizontal dapat menimbulkan resesi gingiva dan abrasi gigi.
·      Teknik penyikatan harus sederhana dan mudah dipelajari oleh pasien.
·      Metode harus tersusun dengan baik sehingga setiap bagian gigi-geligi dapat disikat bergantian dan tidak ada daerah yang terlewatkan.
Kemudian, dokter gigi juga harus memberitahukan kepada pasien frekuensi penyikatan gigi. Secara teoritis, gigi-geligi cukup dibersihkan sehari sekali untuk mencegah agar plak tidak menempel pada daerah yang dapat merangsang timbulnya inflamasi gingiva. Meskipun demikian, hanya beberapa individu yang dapat membersihkan gigi-geliginya dengan sangat baik sehingga seluruh plak dapat dihilangkan dalam sekali penyikatan. Oleh sebab itu, frekuensi menyikat gigi adalah minimal dua kali sehari, yaitu pagi saat setelah sarapan, dan malam sebelum tidur.
Untuk lebih membersihkan gigi, terutama di bagian interdental yang agak sulit dijangkau oleh sikat gigi, maka pasien dapat diajari cara pemakaian dental floss. Awalnya, dokter gigi lah yang mempraktekkan cara pemakaian dental floss di gigi-geligi pasien, kemudian ketika pasien telah mengerti cara menggunakannya, maka pasien dapat mencoba menggunakan dental floss dengan diawasi oleh dokter gigi, sehingga jika pemakaiannya sudah benar, maka pasien tersebut dapat menggunakan dental floss di rumah.1,2
2.    Proses Pembentukan Kalkulus
Kalkulus adalah plak dental yang telah mengalami mineralisasi. Plak yang lunak menjadi keras karena pengendapan garam-garam mineral, yang biasanya dimulai antara hari pertama sampai hari keempat belas dari pembentukan plak.
Proses kalsifikasi mencakup pengikatan ion-ion kalsium ke senyawa karbohidrat-protein dari matriks organik, dan pengendapan kristal-kristal garam kalsium fosfat. Kristal terbentuk pertama sekali pada matriks interseluler dan pada permukaan bakteri, dan akhirnya diantara bakteri.
Saliva merupakan sumber mineralisasi untuk kalkulus supragingival, dimana serum transudat yang disebut cairan gingival crevicular menyediakan kalsium untuk kalkulus subgingiva. Plak memiliki kemampuan untuk mengkonsentrasikan kalsium 2-20 kali level yang ada pada saliva.
Kalsifikasi kalkulus dimulai sepanjang permukaan plak supragingival (dan pada komponen melekat dari plak supragingival) yang berbatasan dengan gigi membentuk fokus-fokus yang terpisah. Fokus-fokus tersebut kemudian membesar dan menyatu membentuk massa kalkulus yang padat. Kalkulus dibentuk lapis demi lapis, dimana setiap lapis sering dipisahkan oleh kutikula yang tipis yang kemudian tertanam dalam kalkulus dengan berlangsungnya kalsifikasi.1,3

Sumber :
  1.      Michael G. Newman, dkk. Caranza’s Clinical Periodontology. 10th Ed. Missouri : Saunders Elsevier. 2006. P.371-2
  2.      J.D Manson. Buku Ajar Periodonti. Edisi 2. Jakarta : Hipokrates. 1993. P.105-122
  3.      Saidina Hamzah Dalimunthe. Periodonsia. Edisi Revisi. Medan : Departemen FKG USU. 2008. P.121-2